Gaji Nol, Kerjanya Numpuk-Numpuk
Menjalani peran sebagai ibu, tidak sepenuhnya bisa membuat diri
saya bangga, apa lagi kalau kadung ingat harga tempat nongkrong makin mengada-ada
untuk segelas kopi kocok. Bayangan-bayangan sederhana macam: anakku besok pasti
pamit mengerjakan tugas kuliahnya di beranda kafe. Kecuali dia sudah menghasilkan
uang sendiri dari pekerjaan paruh waktunya, saya, sebagai ibunya memiliki tugas
tambahan untuk membayar semua tagihan minuman dan jaringan wi-fi Kadang Jalan Kadang
Enggak, secara tidak langsung.
Beberapa waktu akan berjalan seperti itu. Lain hari, saat
dirimu benar-benar tidak siap untuk membayar semua tagihan rumah sakit, anakmu justru
berkeras untuk membenahi jari-jarinya yang patah ketika bermain gobag sodor
dengan teman-teman sebayanya.
Senja, di mana waktu terasa paling menyentuh hati, dengan
cara yang tidak diduga, anakmu yang lain memberimu kabar bahwa dia memiliki pasangan,
yang katanya, seratus persen cintanya akan diberikan untuknya.
Sepertinya, semua menjadi egois, dirimu, juga anakmu. Semuanya
terjadi dengan tiba-tiba, tanpa izin pula. Anakmu harus hidup sementara kamu kesulitan
bertahan hidup. Anakmu harus berangkat sekolah, sementara kamu ingin bangun
sesiang mungkin. Anakmu akan terus membeli jajan, sementara untuk beli semangkok
bakso Solo kamu harus berpikir tujuh kali. Kamu harus melepas beberapa keinginan
masa mudamu, supaya anakmu bisa memaknai apa itu ibu.
Kacrut sekali.
Ada yang bilang kalau proses seperti itu adalah sebenar-benarnya
kodrat sebagai ibu. Tidak banyak pilihan, dan cenderung berkata iya untuk apa
saja yang terjadi. Tidak mampu menolak, bahkan dalam pikiran sekali pun. Puluhan
rencana berkeliaran di dalam kepalamu, tapi sayangnya, kalah dengan kebutuhan. Sabar
dijadikan perisai utama untuk mengatakan bahwa semua hal akan baik-baik saja,
meski tidak tahu kapan.
Rasanya sah-sah saja kalau mengamuk di luar kendali. Tidak jarang,
jika kalimat-kalimat halus tidak mempan untuk meredam amukan anakmu, serangan kemoceng
ganda siap mendarat di bokong anakmu.
Saya sering memejamkan mata, menyendiri, pura-pura tidur untuk
mengelabui anak-anak yang tidak pernah mau duduk diam. Meski hanya bertahan
sekian menit, kapal Pelni tanpa pendingin ruangan, sempat mampir menghibur
diri. Terasa betul udara lengket berusaha menempel di pipi. Suara pecah arus
laut terdengar lebih merdu dari Ong Namo, lagu yoga penenang kalbu.
“Bundaaaaaaaaa…”
Tiba-tiba anak-anak datang menyerang, menginjak lutut saya yang
mulai koyak dimakan usia. Dua yang paling kecil lompat-lompat di atas ranjang, yang
beberapa bagian kawatnya sudah mencuat.
Gosssshhhhh..
Gimana mau jadi sastrawan kalau tiap dua menit sekali anak-anak
itu berteriak dan ribut sendiri.
Ketakutan, kemarahan, pertanyaan, kekhawatiran, kebahagiaan,
campur sedikit sebal, sudah jadi bagian hari-harimu. Tidak punya anak saja seharusnya
perasaan-perasaan seperti itu akan muncul. Bagaimana jika kondisi tersebut
ditambah dengan kehadiran makhluk lain dalam hidupmu?
Ribet.
Di mana bahagianya?
Coba ceritakan.
Selain seperti surat cinta untuk anakmu, yang trend
di beberapa buku keluaran influencer, bahagiamu sebesar apa ketika
menjadi ibu?
Bukannya tidak ada enak-enaknya, gitu?
Komentar
Posting Komentar