Jangan tengok aku setelah lahiran
Andai saja semua perempuan teredukasi dengan baik. Paham mengenai baby blues, paham bahwa depresi pasca melahirkan itu nyata adanya, tentu kejadian mom shamming akan minim.
Ya, paling tidak, curhatan tentang bullying terhadap momski akan jauh lebih sedikit.
Bukan tidak ada memang, karena yang berwawasan luas pun belum tentu punya empati yang dalam, atau bisa mikir dua kali sebelum kasih komentar, bahkan terhadap sesama perempuan, sesama ibu.
Ini ceritaku tentang kalimat Kalem Tapi nylekit yang kuterima saat ditengok pasca melahirkan anak kedua. Intinya, mau melahirkan lewat perut atau vagina ternyata sama saja. Sama-sama tetap bisa dicela.
Kalau kalian lagi jenguk orang lahiran, pasti yang tidak mau dilewatkan adalah proses si bayek dilahirkan.
Well, first of all, aku bangga sama diriku, sangat berterima kasih pada tubuhku yang mampu menerima rasa kontraksi yang lama. Bangga karena bisa dengan tenang menunggu proses pembukaan yang memang pelan prosesnya. Tetap damai saat di balik tirai sebelah sudah terdengar suara tangisan bayi, tetap teguh saat terdengar beberapa keluhan minta sesar.
Namun apa yang ditangkap para pendengar? Apakah aku kuat dan hebat? Oh, ya, tentu saja ada sudut pandang sama, tapi fokusnya beda. Kebanyakan fokusnya pada proses pembukaan yang lama.
"Oh, ya ampun! Kok lama banget ya, padahal kalau anaku dulu cepet banget, lho, nggak sampe dilarani (disakiti) selama itu. Nyampe rumah sakit langsung lairan".
"Oh, kalau aku dulu tu enak banget. Cuma mules bentar terus lahir, kamu kok bisa lama, ya?"
Ini halal nggak kalau aku misuh?
Kesimpulan sementaraku setelah masa tengok bayi selesai (kurang lebih dua bulanan), di kelahiran kedua ini jauh lebih sedikit kalimat-kalimat pedesnya. Entah karena bayiku lahir per vaginam, atau mungkin karena yang nengok aku banyakan orang baiknya, atau aku yang lebih selow dan gak sepaneng seperti kelahiran bayi pertamaku. Entah.
Untung saja aku sudah jauh lebih pandai menjaga kewarasan waktu itu. Membayangkan ibu-ibu yang jauh lebih parah kena mom shamming.
Mending cancel nengokin ya buibu, kalau cuma mau membandingkan dengan proses lahir anaknya sendiri. Tiap kelahiran pasti punya cerita sendiri, punya sakitnya sendiri, punya gembiranya sendiri.
Ingat, tidak semua orang punya penerimaan yang sama pada kalimat yang kita lontarkan. Ditambah lagi, kondisi ibu pasca melahirkan pasti banyak edannya.
Kalau mau kunjungan, kita bantu saja hilangkan lelahnya. Mereka butuh tukang pijet dan keramas bersih, dari pada mendengarkan kisah yang lebih dramatis dari miliknya.
-bunbun-
Komentar
Posting Komentar