Anakmu, Politikmu
Dua hari lalu, saya menyelesaikan sebuah film, yang lagi-lagi, seharusnya belum boleh ditonton Bombay, anak saya yang paling tua. Judulnya kartun abis, Jojo Rabbit. Sengaja saya tidak mencari tahu sinopsis film ini, jadi jujur saja, saya takut tiba-tiba ada adegan yang akan sulit saya jelaskan padanya.
Belum ada sepuluh menit nonton, benar saja, Bombay bertanya seperti biasanya.
“Itu kenapa, kok, bukunya dibakar semua, Bunda?”
Waduh, mati aku. Lali tenan e.
Saya jawab sekenanya saja, “dulu Nazi membakar semua karya penulis yang tidak disukai”
(pasti bakal keluar pertanyaan lanjutan bar iki)
“Kenapa? Bukunya siapa aja yang dibakar?”
(lak tenaaaann)
“Intinya mereka nggak suka kalau ada nggak sepemikiran dengan “Jerman”. Kalau nama pengarangnya, Bunda lupa. Sudah, nonton lagi aja.”
Harus dihentikan sepihak. Kalau tidak, Bombay akan melanjutkan kuliah privat dengan ibunya. Saya tidak siap tampak bodo.
Ini bukan perkara film yang kami tonton sebenarnya. Selesai menonton film, saya diam sebentar, sambil meluk guling isi kapuk 10 kilo buatan ibu saya. Bombay, keluar kamar, masak ndog dadar kesukaannya.
Saya suka nyocok-nyocokin, antara pribadi saya dengan tokoh yang ditampilkan di film. Kali ini, saya iri betul. Saya membayangkan bisa menjadi sosok ibu yang asyik seperti Rosie Betzler. Namun barang 1% saja, saya tidak bisa menyamainya.
Saya tidak ambil pusing dengan ibu yang bisa masak potato puree bak chef ternama, atau ibu yang dikit-dikit ngelap tangan anaknya atas nama kuman jahat, atau turut campur dalam perang ASI-Sufor yang tidak berkesudahan. Semuanya hebat dengan caranya masing-masing, tapi saya tidak bisa tidak iri kalau ada ibu yang bisa berhasil memperkenalkan betapa jahatnya dunia dengan cara yang perfecto. Ibu-ibu macam itu pingin saya culik, terus ta rekam resep keberhasilannya.
Bombay tahu betul, saya benar-benar mencintai Jerman. Buku-buku saya yang berbau Hitler, Nazi, komik ringkas tentang Jerman, sengaja saya pisahkan dari rak buku, supaya tidak diambil adiknya, dan dicoret-coret. Saya bisa nangis nanti. Saya suka membagi khayalan dengan Bombay, nanti, suatu hari, kita akan ke sana, entah bagaimana caranya. Bombay dan adiknya menolak keras.
Enggak! Kita ke Jepang aja. Jerman itu apa.
Wholaaaa..
Yo Jepang nggih mboten nopo-nopo, tur pinginku Jerman oq. Kita pisah di bandara aja kalau gitu.
Egois tenan.
Ben.
Balik lagi ke Rosie Betzler.
Berhubung pemerannya Mbak Scarlet, yang mukanya nggak ada tapinya, saya jauh lebih mudah membayangkan betapa peran ibu sungguh penting dalam cara berpikir anak (anak) nya. Bayangkan. Bagaimana anakmu akan berpikir, bertindak, dan berperilaku pada kehidupan sosialnya, hampir 90% bermula dari mulutmu. Ini kesempatan besar bagi kaum Apalah Kita Ini untuk jadi endorser. Norm endorser.
Betul-betul saya wanti-wanti pada ketiga anak saya, utamanya Bombay yang sedikit banyak sudah bisa membangkang, bahwa kita tidak bisa semaunya sendiri, utamanya jika bersinggungan dengan norma yang makin diperketat urusannya.
Abot, Bun.
Contoh kecil. Kalau Bombay pamit main ke temannya, saya pasti tanya, balik jam berapa? Pernah suatu kali, dia bilang balik jam tiga sore, tapi baru nyampe rumah jam lima, saya sengaja ngunci pintu rumah. Singkat cerita, karena neneknya nggak tega, Bombay berhasil masuk rumah. Kalau tidak ada ibu saya, Bombay pasti di luar sampai jam tujuh malam.
Tegel.
Harus.
Saya tidak ingin menciptakan boomerang pattern untuk diri saya sendiri. Apa yang sudah disepakati di awal, ya mari kita jalankan bersama, untuk kenyamanan siapa? Ya, kita semua. Kecuali tidak pernah dibahas sebelumnya tentang aturan-aturan di rumah, ya tidak akan saya permasalahkan.
Masalah nakal tidak akan bisa saya batasi, tapi dari awal mereka sudah harus belajar mengenai konsekuensi dan tanggung jawab. Jadi, mereka terbiasa merawat hal-hal semacam itu dalam diri mereka. Akan sulit bagi saya kalau suatu hari anak saya melakukan sesuatu yang, amit-amit, merugikan dirinya, tapi dia tidak memiliki alasan kuat untuk apa yang dilakukannya. Asal saja. Ikut-ikut teman. Oh, meeenn. Tidak!
Selain sambat, nakal kudu elegan.
Lagi, saya tidak ingin mereka menjadi seperti saya. Hilang arah karena terlambat mengerti.
Jojo Betsla, what are yout thoughts?
Snake mind
And, Jojo Betsla, what is your body?
Wolf’s body
Jojo Betsla, what is your courage?
Panther’s courage
And, Jojo Betsla, what is your soul?
German soul.
Ntap!
Kamu aktris yang berpengaruh pada kehidupan mereka, tetap jaga ketetapan perilaku, serta atur strategi.
Komentar
Posting Komentar