Kalau Bisa, Lari Saja. Tapi Tidak!
Setelah sebelas tahun menjalani peran seorang ibu, tiba dalam pikiran saya, sepertinya telapak kaki saya tidak ada bau-bau surganya. Dengan sejuta tawaran ketenangan, kebahagiaan, serta kenyamanan dalam surga, saya tidak yakin saya sudah memberikan tawaran macam itu pada tiga anak saya.
Saya merasa kalah tanding dengan kucing kampung, yang tiba-tiba bunting, dan melahirkan anaknya di genteng rumah. Begitu minimal empat ekor anak kucing lahir, ibu kucing dengan gesitnya masuk dapur-dapur yang kurang primpen menyimpan lauknya. Atau yang paling sering dijumpai, kresek sampah yang sudah diikat rapi, di bagian tengahnya pasti koyak karena dieker-eker Ibu Kucing.
Wajarnya, pada ibu-ibu normal, mereka seperti sudah menyiapkan penyusunan rencana, studi kelayakan, dan penyusunan rancangan detail, mulai kehamilan, sampai mau diberi makan apa anaknya nanti. Saya?
Sampai hari ini, pikiran saya masih suka rancu, saya ini sebenarnya ibu atau perempuan 31 tahun, dengan keinginan kembali pada usia 19 tahun, ketika kemaluan saya belum jebol di kamar kos mantan pacar saya. Pada usia itu, saya sukses menjadi omongan tetangga dan keluarga besar. Saat teman-teman saya memulai 20 tahunnya dengan beringas, penthil susu saya sudah meneteskan ASI, untuk anak pertama, yang tentu saja, tidak saya harapkan.
Sedih?
Enggak, kata-kata yang lebih pas mungkin, terpuruk.
Itu sebabnya, sampai hari ini, saya kurang suka mendalami materi-materi tentang menjadi ibu, mulai bagaimana menjaga anak dalam rahim, teknik melahirkan yang akan dipilih, bagaimana menyusui yang baik, menu MPASI apa yang akan dimasak, menenangkan anak tantrum, minyak balur yang cocok untuk anak kecil, dan hal-hal macam itu, saya tidak suka.
Sekira satu minggu yang lalu, ada teman dalam akun blogger ini yang mengajak saya menceritakan hal-hal itu tadi. Ini ajakan buruk kedua dalam hidup saya, setelah kenthu pertama saya dulu. Oh, tidak. Artinya, ketika saya menuliskan mengenai hubungan saya dengan ketiga anak saya, saya akan memulainya dengan menulis narasi yang siap dikirim ke Manoj Punjabi. Script penuh drama.
Saya seperti memulai invasi pada masa lalu saya, yang selama ini saya deklarasikan sebagai sesuatu yang sudah selesai dan tidak perlu diingat. Bangkai sekali, Hila!
Saya merasa terancam untuk memulainya. Setidaknya, jika saya mau, saya bisa saja menolak, karena cerita-cerita ini terlalu personal untuk dibagikan. Agak tidak ramah lingkungan untuk dibaca, takutnya bakal memunculkan kalimat-kalimat macam, “Ih, ternyata gitu”. Ya tidak semuanya berpikiran seperti itu, tapi saya mikirnya begitu. Namun sudahlah, tidak ada yang perlu ditutupi. Bukan perkara malu, tapi malas mengingat saja.
Sebelas tahun berkarya sebagai ibu, sepuluh tahun setengahnya saya habiskan dengan penyesalan tiada henti. Enam bulan sisanya, saya masih ragu, apakah benar saya bisa menjadi ibu yang asyik untuk anak-anak saya. Kacau.
Kalau temans di luaran saya pernah visit di akun Instagram saya, ada beberapa postingan mengenai saya dan anak3. Percayalah, itu adalah usaha saya dalam memberi kepercayaan pada diri saya lagi, bahwa saya ini ibu mereka. Salah satu orang yang seharusnya menjadi teman terdekat mereka. Kalau saya tidak melakukannya, saya akan kehilangan ingatan bahwa saya saya ini sudah jadi ibu. Sekedar memasak, ngeloni, atau mengantar sekolah, ya wajar, lah. Namun, ada hal-hal yang perlu saya rawat dalam diri saya. Kewarasan.
Maka saya terima ajakan Hila untuk menulis di Blog Emak ini. Hanya itu alasannya.
Hari ini saya intro dulu saja. Saya akan menyiapkan tulisan yang mungkin, sedikit banyak akan berbeda dengan ibu pada umumnya, yang memulai segalanya dalam keadaan normal dan sesuai rencana.
Akun Instagram saya @martina.ariel. Mwk.
Komentar
Posting Komentar