Ojo Nganti Cerai, tapi Ini Kisi-Kisi Rasanya


Ya siapa, sih, yang punya niatan cerai?

Bukan hal yang patut dicoba atau dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari kaum muda intelektual, sih. Namun (tulisan ini) bisa dipakai buat siap-siap aja. Membuka wawasan baru akan dunia orang dewasa. Terlebih lagi, semoga bisa membuka hati beberapa pihak yang (mungkin) masih melihat perceraian adalah aib bangsa.

Sementara waktu, tulisan ini tidak akan mengulik-ulik perceraian dilihat dari sudut pandang agama mana saja. Karena kalau pakai agama, pada dasarnya, pada intinya, kesimpulannya, salah. Ora masuk masio arep dikapak-kapakke.

Jadi, saya pakai cara begini saja. Meskipun dirasa kurang pas, tapi setidaknya bisa disrempetkan, dan memudahkan njenengan sedaya untuk bisa melihat kemungkinan lain dari sebuah perceraian.

Berawal dari mana?

Konflik!

Karena konflik berkepanjangan di daerah asal, Tukang Cukur Rambut Asgar dan Madura pernah jaya di kota-kota besar. Kebanyakan dari mereka bermigrasi ke daerah lain untuk menyelamatkan diri, dan ingin memiliki sebuah kehidupan yang lebih baik. Asgar minggat dari daerah asalnya karena konflik DI/TII antara tahun 1949-1950. Sementara sebagian pengikut Trunojoyo di Madura, memilih hengkang dari tanah leluhurnya karena konflik antara Trunojoyo dan Amangkurat tahun 1677.

Apa kata kuncinya tadi?

Iya betul, konflik.

Tambahan lainnya?

Yak! Menyelamatkan diri dan punya kehidupan yang lebih baik.

Caranya?

Ini yang mau saya bahas sedikit.

Masalah rasa, sudahlah ya. Anggap saja saya lupa berdoa sebelum berangkat ke Jalan Santai Dan Semarak Undian 77 Tahun Koperasi Tamba Gering. Undiannya sudah punya 10 lembar dari hasil menabung enam tahun. Tapi pas dipanggil untuk dapat hadiah, barang blender rego sewidak ewu wae ora entuk. Pedih. Tiwas kesel le mlaku, mah ora entuk opo-opo. Gur ngguya-ngguyu cengengesan karo mangan gembus turut ndalan.

Kembali lagi ke masalah cerai tadi.

Begini, saya sudah menjalani proses perceraian ini, ya. Jadi, saya hanya menerima sanggahan mengenai teknis persidangan saja, yang bisa jadi berbeda di tiap daerah, tergantung dari kebijakan, kemurahan hati, serta kebanteran doa tiap insan yang (pernah) atau (dalam proses) atau (baru selesai) atau (berencana) atau (sudah mau, tapi masih bingung memulai dari mana) atau (tidak mau, tapi kudu cerai) atau (sudah cerai, dan mau cerai lagi) atau (alasan lainnya).  

Masalah alasan perceraian saya, sudah dijelaskan di paragraf sebelumnya. Anggap saja saya belum beruntung dan salah investasi, kemudian saya ingin menyelamatkan diri, dan ingin memiliki kehidupan yang lebih baik. Jadi mohon tidak terlalu cingkimin.

Lelah?

Oh, tentu.

Sedari kecil, saya memang tidak  punya keinginan untuk jadi boedak Nederlander, atoepoen Ondernemer, atoe Baron Eropah. Jadi, kemampuan fisik saya ya tentu terbatas. Tidak bisa disuruh keliling Rawa Senajan tiga kali, tidak bisa angkat peroet lebih dari delapan poeloeh kali, tidak poenya tangan koeat dan beroerat. Jadi ya begitu, modal makan tiga kali sehari doang, sih. Apa bedanya sama kalian, to?

Di waktu yang sama, mental inlander muncul di saat yang tidak diharapkan. Sudah sedari dulu kan kita dididik jadi, maksimal, tjentenk di perkeboenan-perkeboenan onderneming? Ya pantas saja mental jadi kaya gedhang goreng lonyot waktu dihadapkan dengan permasalahan-permasalahan pribadi macam perceraian di jaman sekarang ini.

Fisik habis, mental tercabiks.

Konflik sudah tidak bisa dibicarakan?

Ehem… Kalau sudah mau cerai, pasti banyak nih yang nanya begitu. Katanya, semua bisa dibicarakan. Katanya, semua bisa dikomunikasikan. Iya emang bisa. Siapa yang nggak bisa bicara, sih?

Hei, ya.. Kukasih tahu.. Cerai, dalam kasus-kasus pada umumnya, memang bukan jalan keluar terbaik, tapi sudah berada di piramida puncak. Itu artinya, tanpa diminta warga sekitar, sudah ada usaha untuk menyelesaikan sebuah masalah, baik itu penyelesaian jangka pendek, maupun jangka panjang.

Dalam proses tersebut, tentu ada yang namanya diplomasi. Berbagai macam metode diplomasi pasti sudah dilakukan, entah itu teriak kenceng, nangis gerong, merembet di tembok, ngemut bakso sambil nangis, misuh-misuh, atau bahkan tampar menampar dan lempar gelas ke arah tembok biar keliatan serem dan disegani.

Ya begitu itu. Drama itu nyata, Markonah.

Sudah to. Di luar faktor eksternal, apakah ada orang ketiga, pelet, nemu lanangan anyar, konflik itu sudah ada sebelumnya, dan pasti sudah dibicarakan. Yang membedakan, mungkin, bagaimana setiap pribadi menanggapi sebuah masalah, bagaimana support system mereka, faktor penguat, faktor pelemah, semua berbeda. Jadi jangan pernah membuat semua tampak sama di depan mata Anda.

Menyikapinya?

Proses cerai, menurut pengamatan saya, adalah penerapan war strategy dalam lingkup komunal.
Konflik yang tidak kunjung selesai, tentu saja butuh pelibatan unsur lain di dalamnya. Misal, keluarga, teman dekat, dan beberapa pihak yang bisa saja tiba-tiba muncul, tapi punya andil besar dalam penyelesaian masalah.

Perang, ya?

Iya!

Cerai itu butuh strategi. Bukan cuma mengandalkan cangkem dan gontok-gontokan, tapi juga butuh dukungan pihak lain. Yang sering terjadi, salah satu pihak pasti mengalami depresi mental yang luar biasa. Nah, selain berdoa dan meminta pertolongan, pastikan kalian memiliki saudara atau teman yang bisa memberi masukan secara objektif. Bukan mereka-mereka yang menghujami pertanyaan, demi bisa update kisah kalian. Tapi, dekati mereka-mereka yang memang bisa memberikan pandangan lain, menyikapi sikap kalian dengan kepala dingin, bukan malah mendikte apa yang harus kalian lakukan.

Namanya strategi, kerahkan semua cara, supaya berhasil. Guerrilla, Blietskrieg, Kamikaze, Kota Kosong, semua, semuanya pakai saja, sampai merdeka bisa didapat. Fokus pada kelemahan pasangan, bangun kekuatan mental, hancurkan kekuatan pasangan, bangun dukungan dari sekitar, pantau daerah strategis yang sering dipakai pasangan untuk merenung dan menghabiskan waktu, pengamanan alat komunikasi, kalau perlu, pantau semua sosial media pasangan untuk dijadikan senjata di kemudian hari, termasuk pantau tanggapan di kolom komentar, hindari melakukan perbuatan berulang (misal, ubah jalur pulang ke rumah). Kalau perlu, hancurkan kekuatan diri, supaya tahu, sampai mana batas mental kita, sudah siap atau belum jika harus berpisah. Pilihannya, mati di dalam pernikahan, atau bisa cerai, kemudian memerdekakan diri.   

Provoke me until I bring out my ugly side. Then play the victim when I go there.

Sudah barang tentu, ketika proses caci maki dan diam seribu bahasa terjadi, secara naluri, kita akan melindungi pendapat kita. Saya yakin, kedua belah pihak yang memutuskan berpisah, atau mungkin, salah satu ngotot minta pisah, pasti punya pandangan yang ingin dianggap benar. Wajar kok itu.
Selama pencarian jalan tengah tidak bisa dilakukan, masing-masing akan menekan lebih dalam, dengan memakai metode perang yang sudah saya sampaikan tadi. Apa yang terjadi kemudian?
Masing-masing akan membangun benteng pertahanan. Mengatur cangkang supaya siap tembak 1000 mortir sekali dor. Itu.

Normalnya, dalam keadaan demikian ini, pasangan akan semakin mudah menemukan titik lemah kita, dan suatu saat, akan dipakai untuk menjatuhkan kita.

Sedih.

Waktu pertemuan keluarga besar, habislah kita. Kita ungkap fakta A, lawan keluarkan data A+1. Kita buat supaya jadi B-7, mereka buat jadi (B-7)x 10.24. Pokok intinya, ditambah, dikurang, supaya kita jadi minus.

Lantas?

Sebenarnya, bagaimana cara menyikapinya, semua kembali lagi pada subjek pelaku, ya. Alasan utamanya ya itu tadi, kita memiliki situasi yang berbeda, tumbuh di lingkungan yang berbeda, memiliki sudut pandang yang berbeda, perangai orang di sekitar kita juga berbeda. Tidak semua masalah bisa disamaratakan.

Jadi, ya tolong, hargai keputusan mereka-mereka yang tidak ingin melanjutkan pernikahan, dengan berbagai latar belakang. Bukannya mengamini bahwa cerai itu baik. Tapi ada kalanya, jodoh itu kepinjem orang lain. Kita cuma berusaha mengembalikan kepada pemilik sebenarnya, melalui proses cerai ini.




     

Komentar

Postingan Populer