Perkara Manuk Itu Berat
Setiap pagi, selama beberapa tahun belakangan, saya masih suka kaget ketika melihat kemaluan anak laki-laki saya “bangun”. Padahal yo isih sak kepik, tapi reaksi saya tetap sama setiap melihat kemaluan mereka menegang di pagi hari. Karena saya tidak memiliki bentuk kemaluan yang sama, jadi saya juga bingung bagaimana harus bersikap, selain keracunan mimik kaget saya sendiri. Dari semua proses penegangan, saya berhasil lolos dari muka kaget, yah, palingan sekali doang. Itu pun karena keburu-buru, nggak sempat mikir bentuknya yang tetap aneh di mata saya.
Memiliki dua anak laki-laki, membuat saya sadar, ini bocah bakal jadi “penabur benih” di kemudian hari. Kakak yang paling besar, sudah memasuki usia pra remaja, sementara anak bungsu saya berusia hampir empat tahun.
Tunggu.
Mbak’e masih ngeliatin kemaluan anak yang paling gede?
Iya. Beberapa kali masih tidak sengaja saya pantau, karena saya masih suka mandiin dia. Kalau enggak, mandinya bakalan cuma usuk-usuk leher doang, nggak sikat gigi, dan kalau pas nyuci celana dalamnya, kadang ada clepretan buang air besar. Nek cebok ra resik. Jadi saya putuskan, seminggu sekali saya gosok badannya pake sponge kembang mekar itu, biar nggak parah banget bolotnya. Kalau si bungsu, tiap hari masih saya mandikan, jadi otomatis saya pasti lihat kemaluannya mengembang di bawah mata saya.
Pernah suatu hari saya ditanya teman, “gimana kalau kamu nanti tau anakmu ngamar sama cewek?”.
Gimana coba perasaanmu waktu ditanya begitu?
Bukan pertanyaan yang harus dijawab, tapi harus dipikirkan proses menuju ngamar itu. Piye jal? Sampai saya menulis ini saja, saya masih bingung gimana mau njawab. Tujuh tahun dari sekarang, Bombay, anak sulung saya, sudah punya hak penuh akan pemikiran dan badannya. Apa iya saat KTP sudah ada di tangannya, saya masih maksa untuk memandikan dia? Kan yo ora mungkin.
Terus piyeeee?
Pertama kali saya melihat dia lepas celana dan main-main dengan kelaminnya saja saya mau pingsan. Yo ndak pingsan ding, tapi rasanya kayak sikutmu ketatap ujung meja. Mak sengkring. Saya yakin, adegan doski ketauan mlorotin celana, saya kaget dan tiba-tiba menutup pintu kamar, benar-benar menghancurkan harga dirinya sebagai laki-laki.
Artinya, untuk berikutnya, saya sudah harus siap, kalau nanti saya harus bersihkan sprei sisaan mimpi basahnya. Berikutnya lagi, saya sudah harus bisa tutup mata ketika dia memutuskan memakai kelamin untuk pertama kalinya.
Wajar saja saya punya pikiran sampai situ. Sebaik-baiknya pengajaran yang saya berikan, sebanter-banternya pelajaran PPKn diajarkan, sekeras-kerasnya motor dilajukan ke tempat ibadah memohon perlindungan, tetap akan ada kemungkinan anak laki-laki saya kelon dengan pasangannya, meski doa munjung molak malik sudah saya balurkan di kulitnya setiap hari.
Ini penting untuk saya pribadi, mengingat situasi yang saya hadapi sekarang adalah hasil perbuatan-perbuatan bodoh saya sendiri. Saya tidak ingin rantai kesalahan itu membelenggu anak3, karena terlambat memberi pengertian pada mereka.
Suatu hari, saya beranikan diri untuk bicara berdua saja dengan Bombay. Untuk usianya yang baru saja menginjak dua digit, ada hak dan kewajiban baru yang harus dia mengerti. Angan-angan saya sederhana, saya tidak ingin dia merelakan masa mudanya untuk hal-hal yang bodoh dan tidak migunani. Pertama kali yang saya sampaikan padanya bukan perihal kewajiban nyapu ngepel rumah setiap hari, nilai matematika sempurna untuk hitungan panjang kali lebar segitiga sama kaki, atau bagaimana menyibak poni, tapi saya beri hak pertamanya sebagai anak laki-laki. Saya butuh Intisari waktu itu, bukan menu Soda Leci. Hei, saya buat puisi.
Saya mengaku.
Bahwa Bombay lahir tanpa rencana.
Saya ceritakan runtut bagaimana bisa ada dia. Tanpa tahu perasaan detail Bombay saat itu, dia hanya menjawab singkat, “OOOOHHHHH…” sambil mengunyah lasagna pesanannya.
Saya meminta maaf padanya, untuk banyak hal yang tidak seharusnya dia rasakan. Sampai hari ini, perasaan bersalah masih saja nggandol di jantung saya. Takutnya, suatu hari, Bombay akan marah, mengambil jarum pentul, dan menusuk kantong kesalahan itu. Saya pasti ambyar bukan main.
Kembali ke kamar.
Monmap, kalau tulisan saya ini nantinya diaggap merampas norma dan menyetujui dosa karena perbedaan pendapat.
Saya punya akun IG kesukaan, @thebucketlistfamily namanya. Bombay suka komentar kalau saya nonton feed mereka. Beberapa kali, dalam postingan video, ada adegan Mom dan Dad berciuman mesra. Secepat kilat, Bombay pasti salah tingkah. Sepertinya sudah ada bayangan di kepalanya kalau berciuman itu saru. Lha gawat iki. Saya coba lagi, sengaja saya ajak nonton film Aquaman. Di scene berciuman, dia lagi-lagi meresponnya dengan salah tingkah sendiri.
Oh, berarti bener. Ini saya bukan bicara mengenai rating film, ya. Memang saya salah ketika mengizinkan anak saya menonton film yang tidak diperuntukkan untuk usianya. Namun, ada hal yang ingin saya bahas dengan Bombay terkait pengetahuan seksualnya. Saya tidak ingin dia salah tangkap, takutnya dia justru menganggap wajar pertikaian dan pembantaian di depan umum, ketimbang ungkapan cinta dengan pasangan di tengah kerumunan.
Mmmmm.. Tidak-tidak.
Saya ingin menyampaikan padanya secara seimbang, apa itu kebutuhan biologis, aturan apa saja yang ada dalam keyakinan yang saya turunkan padanya, bagaimana lingkungannya saat dia lebih dewasa dari sekarang, serta bagaimana menyikapinya. Masalah keputusan mau bagaimana dengan tubuhnya, saya tidak bisa ikut campur.
Sebelum saya menyampaikan padanya, saya mencoba mengingat-ingat kembali, sebenarnya apa yang ada dalam kepala saya waktu saya membuat Bombay. Apakah saya kekurangan info mengenai pendidikan seksual sejak dini? Enggak juga, ibu saya bidan, saya familiar dengan kelamin wanita sejak saya SD. Saya menanyakan apa saja yang ingin saya tanyakan padanya. Apakah saya tidak dekat dengan agama saya? Ya, bisa saja, tapi kalau diingat-ingat, waktu melenguh saya masih manggil-manggil “ya Tuhaaan..”. Atau pergaulan saya yang brutal? Enggak, ah. Normal saja seperti usia-usia pertemanan pada umumnya.
Lantas? Kenapaaaaa?
Pertama, bukan perkara minimnya pendidikan seksual, tapi bagaimana menjawab dan menceritakan tentang seksualitas itu sendiri. Contoh kecil, ketika saya bertanya pada ibu saya, “gimana caranya aku bisa di perut mama?”. Beliau dengan entengnya menjawab, “ada benda tumpul masuk ke sini”, sambil menunjukkan kemaluannya yang menganga di atas jamban. Iya, wkatu itu saya nanya waktu mama buang hajat. Terlanjur mikir, yang saya bayangkan adalah, benda tumpul itu pipa PVC, bukan penis. Coba waktu itu, ia menjelaskan dengan singkat bahwa ada proses penetrasi dan sebagainya dengan cara sederhana, mungkin saya akan lebih paham. Sepanjang pengamatan saya, anak kecil memroses segala macam informasi sesuai yang didengarnya. Jika yang didengar adalah A, maka yang direkam adalah A, bukan A+1. Kekurangan informasi inilah yang nantinya akan diungkapkan dalam perilaku keseharian mereka.
Kedua, terlalu banyak kata “tidak” tanpa alasan yang jelas. Begini, jika kita dilarang dan diberi alasan yang masuk akal, kita akan lebih bisa menerima, meski tetap ada perdebatan. Namun yang saya dapatkan, terlalu banyak dilarang, tanpa saya tahu kenapanya. Ya jelas saja, waktu saya pindah ke Yogyakarta, saya merasa bebas sebebasnya, tanpa tahu apa yang saya lakukan benar atau tidak. Saya tidak peduli konsekuensinya.
Sekarang, ketika tiba masanya saya berada di posisi ibu saya, saya memilih untuk memberi informasi lengkap pada Bombay, serta memperdebatkan apa pun, meski seringnya dia mengalah karena usia. Biar saja. Saya dan dia harus belajar untuk lebih mengenal satu sama lain dari perdebatan-perdebatan macam itu. Pada akhirnya, dia akan memutuskan apa yang benar untuk hidupnya, termasuk perihal kelaminnya sendiri.
Ameeeeeeennn!!!
Perkoro manuk itu berat, piyantun.
Komentar
Posting Komentar