Mpon-Mpon, Obat Hati Paling Mujarab


Mpon-mpon, anak saya yang kedua, tingkat tantrumnya mencapai 9 dari 10 angka. Malam ketika adiknya dibawa ke rumah sakit karena alergi, dia marah luar biasa, menangis keras, sambil, ya seperti biasa, teriak histeris seperti habis disiram air soda. Karena apa? Karena Emak kesayangannya, ibu saya, ikut mengantar adiknya ke rumah sakit. Sepele, ya?

Untuk kita, iya. Baginya, itu adalah moment ditinggalkan yang menjengkelkan.

Untuk siapa saja yang belum pernah mendengar Mpon-mpon menangis keras, pasti pengennya mbekep mulutnya pake kain. Zlap!

Beneran ini.

Sebagai ibu, saya merasa sudah melakukan yang benar waktu itu. Saya mencoba mengingat kembali apa yang pernah saya baca di artikel-artikel top ibu kota mengenai Cara Menenangkan Anak Tantrum. Memeluk rapat, menyeka keringatnya, menceritakan bottlenose dolphin kesukaannya, memuji kuku tangannya yang terpotong rapi, sedikit menakutinya dengan cerita pocong. MMMMM.. Hasilnya? Nihil.

Menangisnya makin kencang, keringatnya makin banyak, dan tangannya mulai mecakar pahanya sendiri. Saya ikut menangis malam itu.

Malam berikutnya, di motor, waktu pulang kerja, rekaman tangan kecil Mpon-mpon terus muncul. Saya terus menyalahkan diri saya. Malam itu, dengan bodohnya, berulang kali saya bertanya kenapa dan kenapa padanya, “Mpon kenaaapaa?”. Saya melihatnya berusaha berbicara, tapi tidak bisa. Mulutnya rapat, dan hanya bisa menangis keras, sambil mencakar paha dalamnya.

Saya takut ketika melihat Mpon-mpon berusaha menyelesaikan masalahnya dengan cakaran-cakaran. Dalam kemarahan yang tidak bisa dibendung, merasa ditinggalkan dan tidak didengar, ia hanya bisa berteriak kencang, dan tetap: diam.

Wow.

Saya melihat sebagian kemarahan saya pada Mpon-mpon malam itu. Dalam tangisannya, seakan Mpon memasang cermin besar, “Nyoh.. Siapa yang ta contoh?”.

Mpon-mpon memerankan diri saya dengan amat baik.

Lagi-lagi, saya menangis.

Beberapa hari sebelum kejadian tangis-tangisan ini, ada satu teman saya yang mencoba membahas mengenai ucapan syukur, termasuk tindakan yang menyertainya. Sering diminta bersyukur untuk apa saja, justru membuat saya beberapa kali kehilangan makna terdalamnya. Baru tiga hari lalu ini, saya bisa mengartikannya dengan cara yang lebih baik, versi saya, melalui Mpon-mpon.

Dalam upaya menyemangati diri sendiri, saya sering bertanya, bagaimana orang-orang berhasil melanjutkan kehidupannya ketika tidak ada lagi yang bisa diharapkan dalam kehidupan itu sendiri? Ada yang berhasil dengan menonton semua video Merry Riana, ada yang berusaha bangkit dengan drakor dengan rating di atas delapan, ada yang diam-diam ngocak-ngocok sambil cari akses gratisan PornHub, ada yang belagak seperti raja, adu ayam tiap hari, juga punya tujuh bini. Macam-macam.

Termasuk kami berdua. Mpon-mpon berusaha menyelesaikannya dengan cakaran, saya berusaha menyelesaikannya dengan menanamkan pikiran buruk, dalam keterbatasan kami untuk mengungkapkan sesuatu. Dalam keadaan krisis yang tidak kunjung selesai seperti itu, menurut kalian, bagaimana caranya membuat kata bersyukur menjadi terdengar sederhana dan mudah dilakukan? Kalimat-kalimat positif, semangat dari orang terdekat, dan sejenisnya, tidak akan lebih hebat dari nangis gerong, meski akan menganggu kiri-kanan, dan dianggap berlebihan.

Saya belajar banyak malam itu. Kalau seandainya saya ditanya dan harus memberi kesaksian tentang ungkapan syukur, saya bisa lebih luwes menjabarkannya. Ternyata, mengucap syukur itu bukan melulu ungkapan terima kasih untuk apa yang sudah didapat, bukan berterima kasih untuk kehidupan yang jauh lebih beruntung di atas yang drama, tapi proses mengingat setiap detail kejadian.

Tangan kecil Mpon berhasil menarik semua memori dan luka lama saya mengenai keberadaannya. Detail. Semuanya muncul begitu saja dalam kepala saya, seperti data intel yang tiba-tiba muncul di layar besar dalam kecepatan sepersekian detik. Dari tiap detail tersebut, saya bisa membuat daftar kejadian yang saya alami, secara runtut. Saya tulis ulang semuanya, pendek-pendek, dalam buku catatan saya. Dari catatan itu saya bisa menarik kesimpulan sendiri, apa yang harus diperbaiki, apa yang tidak boleh diulang, apa yang harus dijaga, dan apa yang tidak seharusnya dilakukan. Bagi saya, untuk sementara waktu, itu sudah cukup memperjelas arti kata syukur dalam pikiran saya.

Saya tidak akan pernah bisa menyalahkan anak saya, tidak juga diri saya. Kehidupan kami tidak dimulai dengan kesepakatan, itu masalahnya. Kami saling membenci dalam kecintaan satu sama lain. Kami saling mencintai, dengan bumbu kebencian yang terus muncul ketika kami sama-sama capek. Saya dan Mpon, berusaha saling mengerti, dengan masih ada jarak di antara kami.

Tidak masalah.

Dalam proses mengingat semua kejadian mengenai Mpon-mpon, saya bisa memetakan dengan baik, di mana letak hubungan kami saat ini. Saya bisa mulai menanyakan pada diri saya, untuk apa kami dipertemukan, dan saya ingin membuat keputusan tepat mengenai apa yang harus saya lakukan berikutnya sebagai ibu, dengan penuh syukur, juga tanpa kepalsuan. Agar bisa demikian, saya musti bisa melihat kembali sejarah hidup kami. Saya tidak ingin hubungan kami berkembang seperti pandangan umum, kehidupan itu, ya, hanya lanskap yang dilewati dengan kebahagiaan, dengan sedikit menangis, juga jalan lika-liku.

Saya rasa tidak sesederhana itu. Mencoba mengingat tiap kejadian, dan merekamnya, termasuk tidak melupakan tanggalnya, akan sangat membantu untuk menghargai nilai hidup itu sendiri, termasuk hubungan saya dengan Mpon


   



Komentar

Postingan Populer