Raising a perfectionist kid
Aku adalah seorang perfeksionis. Aku pun menyadari itu. Hanya aku tak menyadari jika kebiasanku itu, karakter itu kuajarkan perlahan pada anakku yang usianya baru mau menginjak 5 tahun.
Kok tau kalau anakmu perfeksionis? Kan baru 5 tahun. Eits, keliatan banget ini sis! Segala sesuatu yang berjalan tidak semestinya bisa membuat dia marah. Kala itu dia bermain di sekolah, memasukkan bola ke hoola hoop sebanyak 3 kali. She failed in all the attempts, lalu menangis sejadinya. Begitu laporan guru di sekolahnya.
Aku kaget waktu itu karena keharusan berhasil itu tidak terlalu nampak di rumah. Maka ketika waktunya terima rapot semester, gurunya pun meminta untuk anak ini dilatih membuat kesalahan di rumah. Biarkan dia berbuat salah, dan biarkan dia berkembang belajar dari kesalahan itu. Aku sudah menyanggupi. Ternyata itu jauh lebih sulit dari dugaanku karena untuk mengajari anakku untuk mau atau bisa berbuat salah adalah dengan membiarkanku untuk membuat kesalahan-kesalahan kecil sederhana, yang bahkan aku pun tidak bisa.
Dari proses awal itu aku berusaha perlahan untuk menerima kesalahan. Sayangnya, progres anakku pun lambat untuk belajar bahwa tidak semuanya harus sempurna.
Drama pagi hari kerap terjadi karena salah satu kaos kakinya ada jahitan yang mengganjal. Dia bisa marah dan nangis di mobil. Ada kalanya aku merespons dengan keras, tapi belakangan aku coba lebih selow dengan bilang "ya kalau ga enak kaos kakinya lepas aja. Ga usah pakai." Walaupun dia akhirnya yang ga mau karena bagi dia sekolah itu harus pakai kaos kaki.
Lalu, celana panjang dia beda rasanya dipakai di kanan dan kiri. Dia pun marah, lalu kuminta dia melepas celana saja, karena toh jahitan celana tidak bisa begitu saja diubah. Dia marah dan nangis.
Lain lagi ketika dia mengajakku berdoa, tanpa suara. Dia bertanya apa namanya berdoa tanpa suara, kubilang "dibatin". Dia bilang bukan, tapi dia sendiri lupa apa namanya. Lhaaa apalagi aku. Dia marah, menyalahkanku karena tidak bisa membantunya mengingat. Whattt???!!! Pikirku.
Lalu kutanya dia, "yang ga bisa ingat kan kakak, kenapa momi yang dimarahin?"
Jawabnya, "momi kan harusnya help me untuk ingat"
Aku tidak mau anakku tidak punya rasa bersalah, atau selalu menyalahkan orang lain. Maka langsung kutatar 3 sks saat itu juga. Kujelaskan padanya bahwa tidak bisa kita menyalahkan orang lain sembarangan, apalagi kalau orang itu memang tidak tau. Marah pada diri sendiri boleh saja, tapi lalu apa gunanya. Apakah dengan marah dia bisa ingat kata itu. Hmm.. tidak juga.
Aku tau anakku sangat logis, sehingga aku lebih banyak mengajaknya bermain logika. Aku belum berhasil mengurangi perfeksionisme anakku yang sangat tinggi. But, hey, being a mom is a never ending learning process. Aku dan dia akan sama-sama belajar untuk menjadi tidak terlalu perfeksionis. Toh, perfeksionisme itu bukan sesuatu yang buruk karena akan sangat membantu dalam mencapai target. Hanya kadarnya yang berlebihan justru akan membuat kecenderungan stress.
Aku cuma ga mau anakku nanti gampang stress hanya karena hal-hal yang sangat kecil, yang sebetulnya bisa diabaikan.
Yah, semoga aku bisa membawanya ke titik itu karena untuk bisa sampai ke sana aku harus berdamai dengan diriku terlebih dahulu.
-EB-
Komentar
Posting Komentar