Work from Home ala Emak
Sejujurnya ingin mengawali tulisan ini dengan mengumpat. Sungguh.
Work from home ini beneran bikin capek, penat, mata capek, dan stres.
Sebetulnya load kerja bisa jadi sama saja. Tapi karena semua digital maka harus mantengin laptop atau gadget. Masalah lain adalah susah berhenti kalo sufah buka kerjaan karena semua ada dan didep.
Itu baru masalah kerjaan, masalah yang utama adalah si kecil yang juga #stayathome. Emak pun harus jadi guru juga buat dia. Emak harus menjadwalkan jam belajar buat si kecil di sela kerjaan lain yang menuntut selalu ngecek hape, yang notifikasinya ga habis-habis.
Belum lagi, ketika emak harus meeting online atau ngajar online atau ujian online si kecil kadang juga mau ikut riweuh. Mungkin beberapa kolega ada yang paham, mungkin juga tidak. Tapi jelas emosi emak juga diuji karena konsentrasi gampang banget bubar.
Pas ada ayahnya lumayan, kalo pas ayah juga ga ada meeting. Satu hari, emak nguji, ayah meeting di jam yang sama. Anak dikemanakan? Mau ga mau kami langgar aturan sendiri. YouTube si penyelamat WFH. Akhirnya si kecil kami ijinkan nonton lebih lama dari biasanya di jam yang ga biasanya juga.
Satu dua kali si kecil kuijinkan untuk nengok ada apa di layar laptopku. Lalu beberapa kali berikutnya kulirik dia dengan tajam begitu dia mau mendekat. Ah, merasa bersalah juga. Dengan WFH ini, aku merasa si kecil jadi semakin merasa kurang perhatian karena emak di rumah tapi ga juga punya quality time untuk dia.
Tapi di sisi lain aku pun tetap banyak bersyukur karena pekerjaanku bukan yang berisiko tinggi di garda depan penanganan COVID-19. Jadi aku bisa menjaga diri dan keluargaku.
Aku juga masih bisa WFH dengan mendapatkan penghasilan. Masih banyak di luat sana yang masih harus keluar rumah mencari rejeki tapi pulang dengan tangan kosong karena semua orang tinggal di rumah dan ga butuh jasa mereka.
Setiap kejadian pasti ada hikmahnya dan kita harus belajar dari itu. Semoga COVID-19 ini segera berlalu dan semua kembali normal. Amin.
-EB-
Komentar
Posting Komentar