Multi Peran Saat Pandemi
Saya yakin semua ibu jadi multi peran ketika semua harus tetap di rumah selama pandemi ini. Tidak peduli dia ibu rumah tangga ataupun ibu kantoran.
Cerita ini dari sudut pandangku sebagai ibu kantoran, yang kebetulan kerjaannya ngajar tetuanya siswa, alias mahasiswa.
Saat pandemi tiba, kantor mulai menerapkan WFH, demikian pula sekolah yang kemudian menerapkan study from home. Anakku berusia 4 tahun (sekarang 5, barusan ultah..cieeee) duduk di bangku TK. Kebetulan lagi, program dia program internasional, alias nganggo boso Enggres.
Karena WFH otomatis saya juga harus mengajar secara online. Enam kelas dalam 1 minggu, ditambah membimbing skripsi, lalu ada ujian pendadaran dan juga seminar proposal. Sibuk? Enggaaaaaaa... tapi boong...
Masih ada tugas bertumpuk lain yang harus dilakukan terkait pekerjaan. Hal paling menarik buat saya justru switching peran di siang atau sore hari. Biasanya setelah kelas online selesai kira-kira jam 3 sore, saya baru menyentuh pelajaran anak saya. Pelajaran anak TK. Jadi, dari mengajar yang usianya rata-rata 18 atau 19 tahun, saya mengajar yang umurnya 5 tahun.
Awal-awal saya kewalahan, karena menurunkan ekspektasi, metode belajar, dan kalimat-kalimat yang saya lontarkan sejauh itu ternyata susah. Kebetulan lagi saya ga pernah belajar cara mendidik anak-anak usia dini. Ketika tiba-tiba harus memberikan materi yang nampaknya sangat sederhana itu jadi sulit.
Dampaknya apa? Emosi. Enggak sabar, terus anaknya dimarahi. Ya ga sih? Belum lagi perasaan 'dilepas' oleh sekolah. Walau ada materi tapi tidak ada media yang membantu saya sebagai ibu untuk memberikan materi yanh sangat asing bagi saya.
Sampai di satu titik, saya meminta guru untuk menyediakan media lain bukan sekadar panduan dan konten materi saja, tapi video atau link, atau rekaman apapun yang bisa membantu saya. Tak lama bantuan itu datang, saya jadi bisa menyesuaikan.
"Oh..segitu ritme guru kalau ngomong."
"Oh..begitu intonasinya"
"Oh susunan kalimat gurunya begitu"
Walau tiap hari saya itu ya ngomong-ngomong sama anak saya, tapi memberikan materi untuk dia belajar atau mendapatkan hal baru dan bukan semata sesuatu yang lewat gitu aja, adalah dua hal yang berbeda.
Belum pula laporan ke sekolah yang harus diberikan setiap minggu. Sulit kan menjadi objektif pada anak sendiri? Sampai saya tanya ke gurunya, ini nanti penilaian kenaikan kelasnya bagaimana ya.. menarik kan?
Pandemi ini membawa banyak sekali perubahan dan pengalaman baru. Tak harus dilihat dari kacamata negatif. Misalnya, saya sekarang jadi paham cara blending (belajar membaca dan mengeja) dalam bahasa Inggris. Dulu.. mana saya tau.. taunya beres. Hahahaha.. (mak macam apa)
Selamat menjadi guru di rumah...
Salam waras!
-EB-
Komentar
Posting Komentar