Anakku Hipertensi!
Cerita ini dari sudut pandang Simbok, bukan sudut pandang medis jadi mohon tidak dijadikan sebagai rujukan medis ya. Ini adalah ceritaku sama si Onyil yang didiagnosis essential hypertension 5 hari setelah ulang tahunnya yang ketiga.
Keluargaku dan keluarga ayah Onyil tidak ada yang mengidap hipetensi ketika kecil, kalau wis umur terus hipertensi itu wajar yaaa. Tidak ada juga yang mengalami gagal ginjal di usia muda.
Gejala
Ga ada gejala yang menonjol, bahkan sebetulnya kami ga tahu apa-apa. Beberapa hari setelah ulang tahun, Onyil mengalami demam, 72 jam tidak turun demamnya kami bawa ke rumah sakit tempat dokter langganan dia praktik. Hari itu hari Minggu, jelas dokternya ga praktik ya. Maka mau ga mau dia ke IGD. Onyil kalau demam biasa mencapai 39 derajat. Tapi biasanya dia ga rewel, ini kok rewel terus. Beberapa kali dia bilang sakit kepala. Anak usia 3 tahun bisa bilang dia sakit kepala. Kami menganggap sakit kepala biasa layaknya demam pada umumnya.
Tetapi, dia nangis megangin kepala bagian belakang. Ketika di IGD dokter jaga juga berkali-kali menanyakan itu. Demam yang tak kunjung turun dan gejala dehidrasi emmbuat Onyil harus diinfus. Maka terjadilah drama masukin infus. Onyil nangis hebat. Dokter jaga meninggalkan kami dan berkonsultasi degan SPA yang biasa menangani Onyil via telpon. Tiba-tiba dokter bilang
“Bu, anaknya di tensi ya, Dokter J bilang ad kecurigaan tensi”.
Aku bengong sesaat, tapi ya demi anak akhirnya ditensi. Aku sama sekali ga paham ukuran hipertensi pada anak, aku hampir ga pernah dapat info tentang itu. Setelah ditensi hasilnya adalah 120/90. Kayanya aman ya buat kita dewasa? Tapi ternyata normalnya anak usia segitu sudah terlalu tinggi 80an kalau tidak salah. Dokter kemudian merujuk rawat inap. Onyil tidak diberi obat apapun kecuali penurun panas dan infusnya. Tensi dilakukan per 3 jam. Baru akhirnya dokter menemui kami malam itu. Setelah pengulangan 4 kali tensi, ternyata tensi Onyil menurun tapi sangat lambat. Bahkan di tensi terakhir dia malam itu masih di atas 100. Mau tak mau dokter memberikan penurun tensi ringan, dosis tentu disesuaikan. Onyil rawat inap 1 minggu untuk pemantauan tensi.
Dokter menjelaskan bahwa hipertensi tanpa ada sejarah kesehatan dan keturunan agak rumit untuk dicari penyebabnya, namanya essential hypertension. Onyil menjalani serangkaian tes mulai dari USG ginjal, cek darah, cek urin. Hanya 1 tes yang belum dijalani yaitu USG jantung karena dia masih terlalu kecil untuk menjalani itu. Setelah keluar RS Onyil haris menjalani pengobatan penuh selama 6 bulan untuk mengontrol tensinya. Kontrol mulai dari setiap 2 minggu, lalu setiap 1 bulan. Setelah melewati masa 6 bulan dan tensi sudah terkontrol Onyil tetap harus cek tensi per 2 bulan dan tiap dia periksa karena sakit apapun akhirnya selalu dicek. Hanya demi memastikan.
Status dia sekarang adalah anak dengan hipertensi terkontrol. Ambyar Mak atiku. Betul-betul hancur saat itu. Memang bisa dikontrol, memang tidak ada diet khusus. Tapi masih harus diawasi nanti ketika dia sudah mencapai masa pubertas ketika hormonnya mulai bekerja. Untungnya dokter-dokter di RS itu sangat suportif. Aku juga dikirimi bacaan-bacaan ilmiah tentang jenis hipertensi ini. Puji Tuhan tensi dia tetap baik sampai saat ini walau sudah lepas dari obat. Tapi simbok langsung waspada, tiap kali dia bilang sakit kepala. Harus ditanya bagian kepala mana yang sakit? Karena di usia 3 tahun dia sudah bisa mendeteksi bagian kepala belakangnya yang sakit yang bisa membuat dokter menemukan hipertensinya sangat dini, maka aku sebagai simbok sudah bisa percaya ketiaka dia menunjuk bagian mana yang sakit.
Deteksi dini ini bisa dibilang menyelamatkan anakku, karena bisa segera langsung diatasi sebelum tensinya betul-betul tinggi tanpa disadari. At that point I’m really grateful.
-EB-
Komentar
Posting Komentar