kalau sekarang bisa waras brarti tidak gila
kalau dipikir, saat ini, saat aku duduk disni dan bisa menulis ini sudah sangat bagus kondisinya. setelah sekian banyak hal yang dilalui dan tidak gila itu sudah sangat baik dan sangat bersyukut. bagaimana tidak, dislingkuhi di depan mata, tidak di nafkahi dan tekanan dari keluarga yang tidak akur dengan mantan suami, anak tiga yang butuh makan, tuntutan pekerjaan yang tidak mudah, yah kalo sampai saat ini tidak gila brarti ya masih waras.
seorang ibu apapun itu pilihannya adalah hal yang tidak mudah sama sekali. bagaimana jaman membawa budaya nyinyir yang tidak bisa dipungkiri keluar darimulut keluarga sendiri. entah itu suami, ibu,bapak bahkan eyang sendiri
1. awal punya anak aku di nyinyirin "yo piye ijik bocah tapi ndue bocah makanae ora iso momong"
2. asine sitik wong cen ra gelem nyusuin, mesakke anakke
3. anakke mlebu rumah sakit, wong ibune ra ngurus
4. eh Q,kamu gak diurusin ibukmu ya yang sibuk kerja
5. wetengmu kui lho koyo wong meteng 4 sasi
6. ya ampun. kamu udah punya anak lagi? aku 1 aja wis kerepotan (habis dy komen ini, aku gak mau temenan sama dia)
dan mungkin masih banyak lagi lontaran kenyinyiran itu. hal-hal itulah yang membuat aku memiliki prinsip jangan sampai berbuat yang sama kepada orang lain. berhati-hati ketika berbicara untuk menyelamatkan mental sorang ibu, isti, menantu dari seseorang. kita sebagai orang luar tidak tahu apa yang sudah dan sedang dilaluinya. tidak heran ada berita seorang ibu membunuh anaknya sendiri. bukan hal yang dibenarkan, namun kita prihatin yang mendalam bagaimana dan apa yg sudah serta sedang dilaluinya. banyak orang yang tidak tahu bahwa support system dari orang sekitar yang wajib ada. bagaimana seorang ibu tidak dapat mengungkapkan apa yang dia rasakan karena belenggu adat istiadat bahkan aturan agama. sebetulnya kita, lingkungan dan ekosistem ini yang hampir dapat dikatakan sebagai senjata yang menusuk kaum ibu. bagaimana tradisi dan agama memiliki pengekangan terhadap apa yang dirasakan oleh seorang ibu. hakekatnya seorang ibu harus merdeka merasakan apa yang seharusnya dirasakan.sedih ya boleh aja sedih, mau curhat yang sok atuh curhat aja. kenapa harus takut karena suami berpesan "urusan rumah tangga orang lain tidak boleh tahu" bagaimana sebuah tradisi dari leluhur "hormati apapun yang suamimu perbuat dan kehendaki"
batasan-batasan akan hal itu yang membuat banyak ibu setres, membuat seorang ibu sampai tidak tahan untuk menangis, air mata seorang wanita yang mengorbankan badan, pikiran bahkan mungkin pendidikannya untuk sebuah sistem keluarga. budaya nyinyir yang diturunkan dari orang yang lebih berumur bahkan itu dari lingkungan sendiri.
saya berkesimpulan bahwa perempuan harus mau dan mampu memerdekakan dirinya sendiri, komitmen dengan pasangan adalah komitmen yang tidak memberatkan satu pihak. support dan pasangan dan keluarga adalah kunci kewarasan. jika itu tidak didapatkan, maka yang bisa dilakukan adalah mendobrak batasan sehingga waras dan sehat. ibu yang waras akan membuat anak menjadi waras.
Komentar
Posting Komentar